Senin, 25 November 2019

Makalah Sistem Informasi Manajemen


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Masalah.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegaratidak lepas dari berbagai kegiatan berorganisasi. Oleh karena organisasi merupakan suatu kerangka hubungan yang terstruktur, dimana didalamnya terdapat kewenangan, tanggung jawab dan juga pembagian tugas yang jelas untuk melaksanakan fungsi - fungsi organisasi itu sendiri yang berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya secara terkoordinasi. Istilah lain dari hubungan yang terstruktur ini adalah hirarki hal ini terjadi akibat adanya pimpinan yang mengendalikan jalannya proses kegiatan dan juga bawahan sebagai unsur pelaksana kegiatan serta hubungan yang terjadi diantara mereka.
Adanya hubungan seperti ini, lebih jauh pandangan klasik tentang organisasi oleh Weber (dalam Thoha,1992), mengatakan bahwa organisasai adalah suatu tata hubungan sosial yang dihubungkan dan dibatasi oleh aturan - aturan . Aturan-aturan ini sejauh mungkin dapat memaksa seseorang untuk melakukan aktivitas sebagai suatu fungsi yang konsisten baik yang dilakukan oleh pimpinan maupun oleh pegawai-pegawai administrasi lainnya.”
Dari konsep dasar yang dituangkapkan oleh Mac. Weber, bahwa organisasi atau kelompok kerjasama memiliki unsur sebagai berikut:
1.       Organisasi merupakan tata hubungan sosial, dalam hal ini seseorang melakukan proses interaksi      esamanya didalam organisasi tersebut.
2.      Organisasi merupakan batasan-batasan tertentu. Dengan demikian, seseorang yang melakukan hubungan interaksi dengan lainnya tidak atas kemauan sendiri. Mereka di batasi aturan-aturan tertentu.
3.      Organisasi Merupakan suatu kumpulan tata aturan, yang bisa membedakan suatu organisasi dengan kumpulan kemasyarakatan. Tata aturan ini menyusun proses interaksi diantara orang-orang yang bekerja sama di dalamnya, sehingga interaksi tersebut tidak muncul begitu saja.
4.      Organisasai merupakan suatu kerangka hubungan berstruktur yang didalamnya berisi wewenang, tanggung jawab dan pembagian kerja untuk menjalankan sesuatu fungsi tertentu.
Dalam hal ini Weber menekankan bahwa peranan seseorang yang berada di dalam organisasi harus selalu bekerjasama, diantaranya ada sebagian anggota harus memberikan informasi dan diberi informasi, atau dimotivasi dan memotivasi dan sebagian lainnya membuat keputusan.
Di lain pihak Koontz & O∙Donnel (1972) mengemukakan bahwa organisasi adalah pembinaan hubungan wewenang dan dimaksudkan untuk mencapai koordinasi struktural, baik secara vertikal maupun secara horizontal, diantara posisi-posisi yang telah diserahi tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Oleh karena tujuan suatu organisasi adalah keadaan atau out put yang di kehendaki pada masa yang akan datang, senantiasa menjadi target organisasi untuk dapat direalisasikan. Didalam merealisasikan tujuan organisasi tersebut maka prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas menjadi sesuatu yang mutlak harus diperhatikan.
      Seperti apa yang telah diungkapkan diatas, bahwa organisasi dibangun agar menjadi unit sosial yang paling efisien dan efektif, oleh karena efektivitas sebuah organisasi dapat diukur sejauh mana organisasi mampu untuk merealisasikan tujuannya, sedangkan efisiensi organisasi dapat dilihat dari volume sumber daya yang dipergunakan dalam rangka menghasilkan barang atau jasa (out put).
      Pada umumnya disetiap organisasi apapun bentuknya sudah pasti memiliki: misi, tujuan, sasaran, tugas-tugas serta pembagian tugas secara jelas dan tegas sesuai dengan fungsinya. Dalam konteks pembagian tugas dan fungsi di dalam organisasi maka tugas dan fungsi menyajikan informasi sangat memegang peranan dalam rangka mencapai tujuan atau sasaran daripada sistem informasi. Sistem Informasi memiliki beberapa sasaran diantaranya sebagai pendukung perencanaan, sebagai pendukung pengendalian dan sebagai pendukung pengambilan keputusan.
      Untuk itu diperlukan sistem informasi yang dapat mendukung tercapainya tujuan organisasi. Sistem informasi yang dimaksudkan disini adalah sistem informasi formal. Sistem informasi formal yang sering di terapkan dalam organisasi formal (pemerintah), terdiri dari suatu sistem informasi yang terstruktur. Sistem informasi yang terstruktur ini selalu tersedia pada setiap bidang pekerjaan yang dilakukan seseorang dalam berbagai tingkatan.
      Informasi – informasi yang dibutuhkan oleh organisasi adalah informasi yang telah diolah dengan berbagai sistem yang dimaksudkan untuk dapat membantu para manajer/pimpinan dalam pengambilan keputusan sehingga tujuan organisasi dapat dicapai lebih efesien. Oleh karena kebutuhan informasi itu tergantung dari kegiatan organisasi dari berbagai tingkatan manajemen. Dan bila dilihat dari fungsi organisasi, maka suatu sistem informasi manajemen berada pada setiap kelompok  kegiatan pada sebuah organisasi.
Dilihat dari perkembangan aktivitas pemerintahan sebagai konskuensi dari semakin banyaknya urusan yang diserahkan kepada daerah oleh pemerintah pusat tentu saja pengelolaan manajemen pemerintahan secara propesional merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Hal ini mutlak harus dilaksanakan , karena mengacu pada UU No. 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah menyebutkan :
(1). Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintah yang oleh undang-undang ini ditentukan menjadi urusan pemerintah.
(2).Dalam menyelenggarakan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan sebagaimana dimaksud ayat (1), pemerintah daerah menjalankakan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan  berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
(3).Urusan pemerintah yang menjadi urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a.       Politik luar negeri.
b.      Pertahanan.
c.       Keamanan.
d.      Yustisi.
e.       Moneter dan fiskal nasional, dan
f.       Agama.

adanya penyerahan kewenangan menjadi urusan rumah tangga daerah  berdasarkan azas desentralisasiSebagai tindak lanjut daripada ketentuan ini, maka di daerah perlu difokuskan pada konseptualisasi ulang pemerintahan untuk mendifinisikan kembali peran pemerintah (reinventing government) dalam tata kelola pemerintahan yang bertujuan untuk membuat pemerintahan yang lebih efektif dan memanfaatkan teknologi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah.
Dengan adanya penyerahan kewenangan menjadi urusan rumah tangga daerah berdasarkan azas desentralisasi, dengan sendirinya untuk memanege  urusan- urusan pemerintahan tersebut maka diperlukan unit-unit kerja yang propesional. Dengan demikian seluruh kegiatan ini memerlukan sistem informasi manajemen pemerintahan yang dapat  membantu pimpinan dalam pengambilan keputusann yang tepat.
Suatu Sistem informasi manajemen tidak hanya merupakan serangkaian gagasan konsep, tetapi sistem informasi manajemen juga merupakan sistem operasional yang melaksanakan bermacam-macam fungsi organisasi untuk menghasilkan keluaran (out put) yang bermanfaat bagi proses pelaksanaan kegiatan secara integral di dalam organisasi.
Oleh karena itu berhasil tidaknya tujuan organisasi secara berdayaguna dan berhasilguna ( efektivitas organisasi ), akan sangat tergantung dari pada sistem informasi manajemen yang tersedia.
Dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi  yang telah berdayaguna dan berhasilguna, maka perencanaan sistem informasi manajemen pemerintahan, menjadi salah satu program kerja pemerintahan yang telah dituangkan dalam UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah  yang secara spesifik disebutkan dalam pasal 391, tentang Informasi Pemerintah Daerah yakni :
(1). Pemerintah Daerah wajib menyediakan informasi pemerintah daerah yang terdiri dari:
a.    Informasi Pembangunan Daerah.
b.   Informasi Keuangan Daerah.
(2). Informasi pemerintah daerah sebagaimana di maksud pada ayat (1) di kelola dalam suatu sistem informasi pemerintah daerah.
Dengan demikian Sistem Informasi Manajemen yang di transformasikan kedalam sistem informasi pemerintah daerah, sangat dibutuhkan didalam melakukan penataan kembali (reinventing government) struktur pemerintahan khususnya di daerah.
Disamping pengelolaan sistem informasi pemerintah daerah yang telah dituangkan di dalam undang-undang, juga berdasarkan azas desentralisasi yang berfokus pada daerah maka masing-masing daerah dapat mengembangkan sistem informasi manajemen yang bersinergi dengan teknologi, dalam rangka meningkatkan daya saing daerah dan meningkatkan pelayanan, baik di bidang kelembagaan, teknis administrasi untuk mencapai efektivitas oragnisasi pemerintahan yang lebih baik.
Di Dinas Perhubungan Kota Denpasar merupakan obyek penelitian, telah melaksanakan perbaikan organisasi yang terstruktur dan tertata rapi, sehingga  sistem dan prosedur  informasi administrasinya dapat berjalan dengan baik.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 26 Tahun 2011, tentang Pembentukan Organisasi  Dinas Daerah Kota Denpasar, telah dilakukan reformasi organisasi sesuai dengan kebutuhan pemerintahan dan pembangunan. Berdasarkan hal – ha tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Sistem Informasi Manajemen pada Sekretariat Dinas Perhubungan Kota Denpasar”.

1.2   Rumusan Masalah.
Masalah harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum penelitian dilaksanakan, Pada daarnya masalah merupakan kesenjangan/perbedaan antara harapan dan kenyataan atau kesenjangan antara yang seharusnya dengan senyatanya.
Menurut Winarno Surachmad (1985:33), “ Problem atau masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya, masalah harus dirasakan sebagai suatu rintangan yang mesti dicari pemecahannya” Sedangkan menurut Husein Umar  (2005:8) mengungkapkan “ Masalah sebagai suatu situasi dimana suatu fakta yang terjadi sudah menyimpang dari batas-batas toleransi dari sesuatu yang diharapkan.
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalahnya bahwa Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang dilakukan pada suatu unit kerja sebagai sarana untuk mencapai efektivitas dalam rangka  menunjang pencapaian tujuan organisasi.
Berdasarkan latar belakang masalah dan pengertian masalah diatas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah makalah ini, yaitu :
1.      Apakah Yang Dimaksud Sistem Informasi Manajemen
2.      Bagaimanakah Sistim Informasi Manajemen pada sekretariat Dinas Perhubungan Kota Denpasar
3.      Bagimanakah peran penting Sistem Informasi manajemen dalam pelaksanaan tugas-tugas di Dinas Perhubungan Kota Denpasar.


1.3 Tujuan dan  Kegunan Penelitian.
Tujuan Penulisan makalah adalah sasaran akhir yang ingin dicapai dalam suatu penelitian. Berdasarkan pada rumusan masalah tersebut diatas, maka sasaran yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1.      Pengertian dari Sistem Informasi Manajemen.
2.      Bagaimana Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen pada Sekretariat Dinas Perhubungan Kota Denpasar.
3.      Peran Penting Sistem Informasi Manajemen dalam pelaksanaan tugas-tugas di Dinas Perhubungan Kota Denpasar.











BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan teori
      Dalam penelitian ini, teori yang diungkapkan hanya terkait dengan variable penelitian, yaitu : sistem informasi manajemen, pengambilan keputusan dan efektivitas organisasi, serta konsep-konsep lain yang erat hubunganya dengan variable penelitian.
2.1.1 Sistem Informasi Manajemen,
a.       Sistem.
Menurut Elias M. Awad (1979:9) dalam bukunya yang berjudul System Analysis and Design, menyatakan bahwa “sistem adalah : hubungan fungsional yang terorganisasi/teratur, yang berlangsung di antara bagian-bagian atau elemen”.
Sedangkan menurut Bonita J. Campbel (1979:12) dalam bukunya  Understanding Information System Foundation For Control menyebutkan bahwa sistem adalah : “sehimpunan bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan dan secara bersama-sama berfungsi atau bergerak untuk mencapai suatu tujuan”.
      Berdasarkan dua difinisi sistem tersebut diatas ternyata terjadi hubungan terorganisasi antara komponen yang satu dengan komponen yang lain yang masih berada dalam satu sistem tersebut, yang menurut Ronald G. Havelock (1979:11) yang dimaksud saling berhubungan terorganisasi adalah :
“Seperangkat komponen yang saling mempengaruhi, dalam rangka mencapai keseimbangan, interdependensi, atau kesatuan, jadi sistem akan selalu bergerak kearah keseimbangan dan menjaga ketergantungan bagian-bagiannya satu sama lain, dalam rangka mempertahankan kesatupaduannya”.
            Dilain pihak pendapat dari Shuterland (1975)(Hartono:2013:12) mengatakan sistem adalah : “Sistem yang ada di dunia nyata ini adalah sangat tergantung pada kejadian-kejadian atau prilaku pihak-pihak diluar, sehingga keberadaanya atau pertumbuhannya tergantung pada interaksi yang terus menerus dengan faktor-faktor lingkungan”.
      Dari pendapat para ahli tersebut diatas, sebuah sistem sangat sulit untuk dipahami karena merupakan entitas yang rumit, untuk memudahkan mempelajarinya Shuterland menambahkan :
“Sebuah sistem dapat dilihat sebagai suatu rangkaian sebab akibat yang berurutan, dimana masukan yang mengalir ditangkap  dan masuk kedalam sistem, lalu diolah dan diubah menjadi keluaran yang mengalir keluar melalui sejumlah proses. Ia menamai model semacam ini dinamai model semacam ini sebagai model “ black box “ keluaran akan mempengaruhi lingkungan, sehingga terjadi perubahan-perubahan lingkungan akan merupakan umpan balik (feedback), yang kemudian ditangkap lagi oleh sistem sebagai masukan baru, dan demikian seterusnya.





b.      Informasi.
Menurut  Henry C.Lucas (1994:134) dalam bukunya Information Concepts For Managemenmengungkapkan informasi adalah :
The interpretation of data to people meaning by an individual”( data yang telah ditafsirkan agar memberikan makna tertentu bagi seseorang )
Sedangkan  (Eti Rochaety :2013:5) memberikan definisi informasi sebagai berikut  : “Informasi adalah data yang telah diolah  menjadi suatu bentuk yang berguna bagi penerimanya dan memiliki nilai bagi pengambilan keputusan saat ini atau masa yang akan dating”
Dilain pihak Lippeveld, Sauerborn, dan Bodart (2013:15) medifinisikan informasi  sebagai “a meaningful collection of facts or data “ (Sehimpunan fakta atau data yang memiliki makna).
Dari beberapa difinisi  para ahli tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang telah dikumpulkan, kemudian disimpan dan ditransformasikan menjadi informasi dilakukan dalam sebuah sistem, dimana data yang merupakan masukan kemudian diolah atau diproses oleh sistem menjadi keluaran (output) yang berupa informasi, lebih jauh Lippeveld, Sauerborn dan Bodart (2013:16) mengatakan bahwa : “Dengan diolahnya data menjadi informasi, maka data yang semulanya memiliki kegunaan yang terbatas, lalu menjadi lebih luas kegunaan atau fungsinya sebagai informasi”
            Selanjutnya Lippeveld, Sauerborn dan Bodart (2013:17) menambahkan bahwa ada delapan kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan nilai dari suatu informasi :
1.      Relevansi, Informasi disediakan atau disajikan untuk digunakan. Oleh karena itu, informasi yang bernilai tinggi adalah yang relevan dengan kebutuhan, yaitu untuk apa informasi itu akan digunakan.
2.      Kelengkapan dan keluasan, Informasi akan bernilai semakin tinggi, jika tersaji secara lengkap dalam cakupan yang luas. Informasi yang sepotong-sepotong, apalagi tidak tersusun sistematis, tentu tidak akan banyak artinya, demikian pun bila informasi itu hanya mencakup area yang sempit dari suatu permasalahan.
3.      Kebenaran, Kebenaran informasi ditentukan oleh validasi atau dapat dibuktikan. Informasi berasal dari data, dan data adalah fakta. Informasi yang bernilai tinggi adalah informasi yang benar-benar berasasal dari fakta, bukan opini atau ilusi.
4.      Terukur, Informasi berasal dari data atau hasil pengukuran dan pencatatan terhadap fakta. Jadi informasi yang bernilai tinggi adalah informasi yang jika dilacak kembali kepada datanya, data tersebut dapat diukur sesuai faktanya.
5.      Keakuratan, Informasi berasal dari data atau hasil pengukuran  dan pencatatan  terhadap pakta. Oleh karena itu kecermatan  dalam mengukur dan mencatat fakta akan menentukan  keakuratan  data dan nilai dari informasi yang dihasilkan.
6.      Kejelasan, Informasi dapat disajikan dalam berbagai bentuk teks, table, grafik, chart, dan lain lain. Namun apapun bentuk yang dipilih, yang penting adalah menjadikan pemakai mudah memahami maknaya. Oleh sebab itu, selain bentuk penyajiannya harus benar, juga harus diperhatikan kemampuan pemakai dalam memahaminya.
7.      Keluwesan, Informasi yang baik adalah yang mudah diubah-ubah bentuk penyajiannya sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi.
c.       Manajemen.
Menurut H. Malayu SP. Hasibuan (2001:7) Manajemen adalah :”Ilmu dan seni mengatur proses pemanpaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”
Sedangkan menurut Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel (2001:2) mendifinisikan sebagai berikut : “Manajemen adalah Usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan penegendalian”.
            Dilain pihak Henry Fayol (2001:8) dalam bukunya “ General  and Industrial Management “ mengatakan :
Beberapa azas yang praktis dan sederhana yang dapat digunakan dalam menjalankan pekerjaan seorang manajer, dengan mengembangkan pandangan-pandangan tentang manajemen sebaga suatu hal yang terdiri dari : fungsi-fungsi Planing, organizing, coordinating, commanding dan controlling (POC3)
            Lebih jauh Henry Fayol mengungkapkan bahwa ada beberapa azas umum (general principles of management) manajemen yang harus dilakukan pada sebuah organisasi meliputi :
a.       Devision of Work, Azas ini sangat penting karena adanya limit factor, artinya adanya keterbatasn –keterbatasan manusia dalam mengerjakan semua pekerjaan yaitu :
1.      Keterbatasan waktu.
2.      Keterbatasan pengetahuan.
3.      Keterbatasan kemampuan.
4.      Keterbatasn perhatian.
                  Keterbatasn-keterbatasan ini mengharuskan diadakanya pembagian pekerjaan. Tujuannya untuk memperoleh efisiensi organisasi dan pembagain kerja yang spesialisasi sangat diperlukan, baik pada bidang  teknis maupun pada bidang kepemimpinan.
Asas pembagian kerja ini mutlak harus diadakan pada setiap organisasi karena tanpa pembagian kerja berarti tidak ada organisasi dan kerjasama diantara anggotanya. Dengan pembagian kerja maka daya guna dan hasil guna organisasi dapat ditingkatkan demi  tercapainya tujuan.
b.      Authority and Respobility (wewenang dan tanggung jawab).
Menurut asas ini perlu adanya pembagian wewenang dan tanggung jawab antara atasan dan bawahan, wewenang harus seimbang dengan tanggung jawab, wewenang (authority) menimbulkan “hak” sedangkan tanggung jawab menimbulkan  “kewajiban”. Hak dan kewjiban menyebabkan adanya interaksi atau komunikasi antara atasan dan bawahan.
c.       Discipline.Menurut asas ini, hendaknya semua perjanjian, peraturan yang telah ditetapkan, dan perintah atasan harus dihormati, dipatuhi, serta dilaksanakan sepenuhnya.
d.      Unity of Comando( kesatuan perintah).
      Menurut asas ini hendaknya setiap bawahan hanya menerima perintah dari seorang atasan dan bertanggung jawab hanya kepada seorang atasan pula. Tetapi seorang atasan dapat memberi perintah kepada beberapa orang bawahan, asas kesatuan perintah ini perlu, karena jika seorang bawahan diperintah oleh beberapa orang atasan maka ia akan bingung.
e.       Unity of Direction (kesatuan jurusan dan arah).
      Setiap orang (sekelompok) bawahan hanya mempunyai satu rencana, satu tujuan, satu perintah, dan satu arahan, supaya terwujudkesatuan arah, kesatuan gerak, dan kesatuan tindakan menuju sasaran yang sama. Unity of commando berhubungan dengan karyawan, sedangkan unity of dirction bersangkutan dengan seluruh perusahaan.
f.       Subordination of Individual Interes into General Interest (asas kepentingan umum diatas kepentingan pribadi ).
Setiap orang dalam organisasi harus mengutamakan kepentingan bersama (organisasi), diatas kepentingan pribadi. Misalnya pekerjaan kantorsehari-hari harus diutamakan daripada pekerjaan sendiri
g.      Remuneration of personnel ( asas pembagian gaji yang wajar ).Menurut asas ini, hendaknya gaji dan jaminan-jaminan sosial harus adil, wajar dan seimbang dengan kebutuhan, sehingga memberikan kepuasan yang maksimal baik bagi karyawan maupun majikan.
h.      Centralization (asas pemusatan wewenang).
      Setiap organisasi harus mempunyai pusat wewenang, artinya wewenang dipusatkan atau dibagi-bagi tanpa mengabaikan situasi – situasi khas yang akan memberikan hasil keseluruhan yang memuaskan. Centralization ini sifatnya dalam arti relative, bukan absolute (mutlak).
i.        Scalar of Chain( hirarki atau rantai berkala).
      Saluran perintah atau wewenang yang mengalir dari atas ke bawah hraus merupakan mata rantai vertical yang jelas, tidak terputus, dan dengan jarak terpendek. Maksudnya perintah harus berjenjang dari jabatan tertinggi ke jabatan terrendah dengan cara yang berurutan.
j.        Order  (asas keteraturan ).
      Asas ini dibagi atas material order dan social order, artinya keteraturan dan ketertiban dalam penempatan barang-barang dan karyawan. Mterial order artinya barang-barang atau alat –alat organisasi perusahaan harus ditempatkan pada tempat yang sebenarnya. Sosial order artinya penempatan karyawan harus sesuai dengan keahlian atau bidang spesialisnya.
k.       Equity (asas keadilan).Pemimpin harus berlaku adil terhadap semua karyawan dalam pemberian gaji dan jaminan sosial,. Pekerjaan dan hukuman. Perlakuan yang adil akan mendororng bawahan mematuhi perintah-perintah atasan  dan gaerah kerja, jika tidak adil bawahan akan malas dan cendrung mnyepelekan tugas-tugas dan perintah atasannya.
l.        Initiative (asasinisiatif).Menurut asas ini, seorang pemimpin harus memberikan dorongan dan kesempatan kepada bawahannya untuk berinisiatif, dengan memberikan kebebasan agar bawahan secara aktif memikirkan dan menyelesaikan sendiri tugas-tugasnya.
m.    Esprit de Corp( asas kesatuan ).
      Menurut asas ini, kesatuan kelompok harus dikembangkan dan dibina melalui sistem komunikasi yang baik, sehingga terwujud kekompakan kerja (team work ) dan timbul keinginan untuk mencapai hasil yang baik. Pimpinan perusahaan harus membina  para bawahannya sedemikian rupa, supaya karyawan merasa ikut memiliki perusahaan itu.
n.      Stability of Turn over of Personnel( kestabilan jabatan karyawan ).Pimpinan perusahaan harus berusaha agar mutasi dan keluar masuknya karyawan tidak terlalu sering, karena akan mengakibatkan  ketidakstabilan organisasi, biaya-biaya semakin besar, dan perusahaan tidak mendapatkan karyawan yang berpengalaman. Pimpinan perusahaan harus berusaha agar setiap karyawan betah bekerja sampai masa pensiun.
d.      Sistem Informasi Manajemen.
      Berdasarkan pengertian dari masing masing unsur tersebut diatas, maka keseluruhan unsur tersebut sehingga digabung menjadi sistem informasi manajemen, maka selanjutnya akan dibahas teori – teori tentang sistem informasi manajemen menurut para ahli :
Menurut Lucas (2013;20), mendifinisikan sistem informasi manajemen sbb
A set of organized procedures that, when executed, providers information to support decision  making and control in the organization, (seperangkat procedure yang tersusun dengan baik yang pada saat dijalankan, menghasilkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan penegendalian organisasi).
            Sedangkan (Moekijat:1991:1) dalam bukunya “ Managemen Information System “  menyatakan bahwa :”Tidak ada persetujuan mengenai istilah “ sistem informasi manajemen”, Beberapa pengarang lebih suka menggunakan istilah “ sistem pengolahan informasi” , sistem informasi/ keputusan” atau secara gampang “sistem informasi” untuk menunjukan sistem pengolahan informasi yang menggunakan computer guna menunjang operasi, manajemen dan fungsi, manajemen dan fungsi keputusan suatu organisasi.
Berdasarkan difinisi yang telah diungkapkan oleh para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi manajemen merupakan sesuatu yang terdiri dari beraneka ragam pendekatan ( multidimensi ) dan kajiannya pun harus berdasarkan multidimensi, untuk selanjutnya Laudon & Laudon (2013:24) mengatakan : “Pendekatan yang paling tepat untuk mengkaji sistem informasi manajemen adalah pendekatan dengan pandangan sosioteknis, yaitu gabungan dari pendekatan teknis dengan pendekatan prilaku”.
         Lebih jauh Laudon & laudon (2013:24) dalam bukunya “ Manajemen Information System “ mengungkapkan bahwa adanya empat dimensi dari sistem informasi manajemen yaitu sebagai berikut :
1.      Dimensi Keahlian, jika kita berbicara tentang sistem informasi manajemen dari dimensi keahlian, maka dapat dikatakan bahwa untuk menyelenggarankan sebuah sistem informasi manajemen dibutuhkan dua bidang keahlian yaitu : (1) keahlian sistem informasi, dan (2) keahlian teknologi khususnya computer dengan perlengkapannya. Keahlian Sistem Informasi dibutuhkan karena untuk menyelenggarakan sebuah Sistem Informasi Manajemen diperlukan orang-orang yang mampu mengidentifikasi kebutuhan informasi, merancang (mendesain)  sistem informasi menyusun rencana induk dan rencana-rencana tindak lanjut yang diperlukan, mengelola dan memimpin sistem informasi, serta memantau dan mengevaluasi kinerja sistem informasi. Sedangkan keahlian computer dan kelengkapannya dibutuhkan karena saat ini kedepan, demi efektivitas dan efisiensi. Sistem Informasi Manajemen harus dikelola dengan memanfaatkan teknologi computer.
2.      Dimensi Oerganisasi, Sistem informasi Manajemen adalah bagian integral (tak terpisahkan) dari organisasi, hampir semua organisasi/ perusahaan memiliki sesuatu yang sama, yaitu mereka harus mengumpulkan informasinya dan menganalisanya serta mengambil tindakan atas dasar penafsiran  terhadap informasi, suatu sistem informasi tidak dapat beroperasi sendiri melainkan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem dimana ia berada.
3.      Dimensi Manajemen, Jelas bahwa pembahasan tentang sistem informasi manajemen tidak mungkin terlepas dari pembahasan  tentang manajemen.Dari urain-uraian terdahulu sudah tergambar bahwa kinerja Sistem Informasi Manajemen sebenarnya diukur dengan seberapa besar penggunaan keluarannya (yaitu informasi) oleh dan untuk kepentingan manajemen.
4.      Dimensi Teknologi, Dari dimensi teknologi, khususnys teknologi computer dan kelengkapanya, pembahasan tentang sistem informasi manajemen menyangkut pembahasan tentang teknologinya sendiri dan tentang perangkatnya. Tentang teknologi, pembahasan berkisar pada uraian mengenai teknologi manajemen data serta teknologi telekomunikasi dan jaringan teknologi manajmen data mencakup mencakup pengorganisasian data kedalam berkas (file), dan pangkalan data (data base) perancangan dan pengelolaan pangkalan data, serta penyajian data dan informasi.
            Sehubungan dengan  hal tersebut, maka tujuan daripada Sistem Informasi Manajemen adalah menyajikan informasi untuk pengambilan keputusan pada tingkat perencanaan, pemerakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi sub sistem suatu perusahaan dan menjalin sinergi organisasi pada proses.
                  Oleh Karena itu dijelaskan bahwa Sistem Informasi Manajemen  dalam sebuah organisasi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam rangka efektivitas organisasi.
                  Dari uraian diatas maka Lippeveld, Saurborn, dan Bodart (2013:22) memberikan batasan umum tentang peranan Sistem Informasi manajemen dalam sebuah organisasi yaitu : “Suatu Sisten Informasi tidak dapat dapat beroperasi sendiri, melainkan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem dimana ia berada, hal ini berimplikasi bahwa keberadaan dan kehidupan sebuah sistem informasi manajemen sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur kunci dari perusahaan, yaitu kebijakn perusahaan, sumber daya manusia, struktur organisasi, proses bisnis serta politik dan budaya perusahaan, sebaliknya sistem informasi manajemen juga dapat mempengaruhi unsur-unsur kunci organisasi tersebut”.
                  Dengan demikian akan semakin jelas, bahwa Sistem Informasi Manajemen sangat diperlukan sebagai sarana atau mempermudah manajemen didalam pengambilan keputusan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara efesien  dam efektif.

2.2.  Peran Sistem Informasi Manajemen pada organisasi (Dinas Perhubungan Kota Denpasar).
Berpatokan pada Definisi Sistem Informasi Manajemen adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengolah serta mengorganisasikan data dan informasi yang memiliki manfaat dan berguna untuk mendukung pelaksanaan tugas atau kinerja dalam suatu organisasi. Pengertian lain mengatakan bahwa Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu sistem yang digunakan oleh suatu organisasi maupun perusahaan untuk mengelola semua transaksi yang mendukung fungsi manajemen. Pengelolaan transaksi ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu penjelasan Sistem Informasi Manajemen juga dapat dijabarkan sebagai sistem informasi yang menghasilkan output melalui masukan input dan berbagai proses lainnya. Hasil dari proses tersebut digunakan untuk tujuan tertentu dalam kegiatan manajemen organisasi atau perusahaan.
Sistem Informasi manajemen biasa disebut dengan istilah SIM. Berbagai hasil dari proses Sistem Informasi Manajemen digunakan sebagai bahan pertimbangan sebuah organisasi dalam pengambilan keputusan. Penggunaan Sistem Informasi Manajemen dalam setiap kegiatan ataupun tugas organisasi yang berhubungan dengan analisis manajemen dapat dikerjakan lebih efisien.
Peran teknologi, Sumber Daya Manusia dan komitmen organisasi  sangat penting dalam mendukung keberjalanan Sistem Informasi Manajemen. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen sangat berguna bagi keberjalanan fungsi manajemen, operasional dan pengambilan keputusan dalam organisasi.
Sebagai contoh Sistem Informasi Manajemen pada suatu oragnisasi yang  berorientasi pada pelayanan.  Proses Sistem Informasi Manajemen dapat mendukung organisasi dalam proses pelayanann. Aplikasi Sistem Informasi Manajemen pada kasus ini dapat berhubungan dengan lini apapun. Mulai dari komunikasi antar anggota organisasi, perhitungan retribusi dan pendapatan asli Daerah, hingga database pelanggan.

2.3. Peran Penting Sistem Informasi Manajemen Dalam Pelaksanaan Tugas-tugas Di Dinas Perhubungan Kota Denpasar.
Informasi adalah sangat penting dalam sebuah organisasi untuk kelangsungan perkembangannya. Sehingga jika sebuah organisasi kekurangan informasi atau bahkan informasi itu terlalu banyak maka dapat mengakibatkan organisasi akan mengalami ketidak mampuan mengontrol sumber daya, sehingga dalam mengambil keputusan yang strategis akan sangat terganggu dan pada akhirnya akan mengalami kekalahan dalam bersaing dalam lingkungan yang serba modern.
            Pada sebuah organisasi juga tentunya mengadakan beberapa pekerjaan yang bisa menunjang pekerjaanya, misal saja mengadakan transaksi-transaksi yang harus diolah setiap harinya, daftar gaji yang harus disiapkan, penerimaan yang harus dibutuhkan. Semua contoh itu pastinya akan mengolah data-data yang diperlukan, dalam hal ini komputer akan memudahkan manusia dalam bekerja untuk mengolah data. Namun, dengan adanya sebuah sistem informasi akan lebih mempermudah pengolahan tersebut, tentunya dengan menggunakan sistem informasi manajemen yang tidak hanya bisa mengolah data, namun juga dapat memberikan informasi kepada pihak manajemen secara mudah dan fleksibel, dan juga bagi pengambil keputusan.
            Dilihat dari pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM) secara umum yang dikenal oleh orang adalah sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu (integreted) untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah bisnis (organisasi), maka menurut O'Brein (2009) dapat disimpulkan bahwa peran SIM dalam operasional oranisasi ada tiga, antara lain :
1.      Menunjang kegiatan  operasional organisasi (OPD)
2.      Menunjang manajemen dalam mengambil keputusan
3.      Menunjang keungulan srtategi kompetitif organisasi.




2.3.1   Menunjang Kegiatan  Operasional organisasi (Dinas Perhubungan Kota Denpasar.
Peranan SIM untuk menunjang kegiatan operasional dapat dibagi lagi menjadi beberapa proses lagi , antara lain :
a.   Transaction Processing System (TPS)
Dalam proses TPS ini berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik. TPS ini digunakan untuk mencatat dan memproses data hasil dari transaksi seperti penerimaan retribusi ,
 Dan pada proses TPS ini akan menghasilkan beberapa informasi produk untuk penggunakan internal dan eksternal, contoh :
-          Pembuatan pernyataan konsumen
-          Cek gaji karyawan
-          Kuintasi penjualan
-          Order pembelian
-          Formulir pajak
-          Rekening keuangan.
b.      Process Control System (PCS)
Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti keputusan pengendalian penerimaan retribusi. Hal ini melibatkanvprocess control system (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara otomatis dibuat oleh komputer.
c.       Office Automation System (OAS)
Tugas dari proses OAS adalah :
-          Mengumpulkan data dan informasi
-          Memproses data dan informasi
-          Mengirim data dan informasi

















BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab V diperoleh simpulan yaitu secara keseluruhan Sistem Informasi Manajemen pada Dinas Perhubungan Kota Denpasar
Bila dilihat pemanfaatan Sistem Informasi manajemen dari beberapa teori dan pernyataan yang ditunjukan dalam penulisan makalah ini dengan hasil sangat baik ini membuktikan bahwa betapa pentingnya eksistensi system informasi manajemen tersebut pada sebuah organisasi sebagai bahan pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.

3.2 Saran.
            Sesuai dengan pembahasan dan simpulan yang telah diuraikan diatas maka pada kesempatan yang istimewa ini ada beberapa saran yang dapat diungkapkan terkait dengan apa yang telah peneliti evaluasi dari hasil penelitian yang telah dilakukan  dengan variable penelitian, Untuk itu ada beberapa saran diantaranya:
1.      Didalam merancang anggaran diharapkan distribusi anggaran dilakukan secara proporsional baik Fisik maupun non fisik, sehingga dalam memperbaiki sistem informasi manajemen memperoleh anggaran yang memadai.
2.      Dalam merancang sebuah sistem informasi manajemen yang unggul maka sangat diharapkan adanya perhatian administrator untuk meningkatkan koneksitasnya dalam merancang kegiatan pendataan (pangkalan data) sebagai akomodasi dasar untuk memperoleh informasi yang akurat.
3.      Terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemegang kebijakan sangat diharapkan berdasarkan fakta dan nilai, fakta berdasarkan informasi riil yang ada, nilai memiliki tujuan yang jelas.

1 komentar:

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Nilai-Nilai Pancasila Menjadi Modal Bangsa dan Negara dalam mengatasi Pandemi Covid-19. Mengutip pendapat Presiden pertama Negara Indone...